oleh

Nukila, Perempuan Dan Revolusi Industri 4.0

-Opini-2.226 views
Asterlita T Raha

“if you educate a man, you educate a person. But if you educate a women, you educate a nation” Kata-kata Koffie Anan menjadi tamparan bagi peradaban yang selalu memarginalkan perempuan dalam setiap lekuk kehidupan. Mimbar publik seolah-olah dikhususkan bagi laki-laki, sedangkan perempuan menempati dahan kering yang rentan akan kekerasan dan terpenjara dalam ruang-ruang domestik. Seperti bumi yang tak bosan berotasi, kekerasan dan penindasan bagi perempuan masif terjadi tanpa mentoleransi usia, tempat dan bentuk. Menurut CATAHU Komnas Perempuan, tren pengaduan kekrasan terhadap perempuan tahun 2019 naik 14% dari tahun 2018, menjadi 406.178 kasus dari 348.466 kasus pada tahun sebelumnya.

Dalam kegersangan patriarkhi, perempuan mulai menyadari ketimpangan relasi yang terus menghegemoni, mengakibatkan revolusi terjadi diberbagai sendi-sendi kehidupan sebagai bentuk pemberontakan akan ketidakadilan. Sejalan dengan itu berbagai paham feminis lahir sebagai puncak dari kekautan akan dominasi, diantaranya pemikiran Feminis liberal dengan konsepsi atas sifat manusia yang memiliki kapasitas untuk bernalar, feminis liberal cenderung kepada kesejatraan.

Wollstonecraff  berpendapat bahwa perempuan adalah personhood-manusia secara utuh, tegasnya perempuan bukanlah mainan laki-laki, atau lonceng milik laki-laki yang harus berbunyi pada telingannya setiap kali ingin dihibur (tanpa mengindahkan nalar). Pemikiran feminis liberal juga berbicara tentang hak politik dan kesempatan ekonomi yang setara, di samping itu berbagai pemikiran feminis hadir dengan tuntutannya masing-masing.

Nukila

Disebagian masyarakat awam mungkin jika ditanya apa itu Nukila, maka akan menunjukan sebuah taman dibibir pantai ataupun sebuah nama jalan di kota Ternate. Jazirah dengan julukan Negeri para raja ternyata pernah dipimpin oleh seorang ratu yakni Sultanah Nukila yang dinobatkan dengan gelar Ratu Nyai Cili dan dikenal pula sebagai Rainha Boki Raja, pemimpin perempuan pertama di kerajaan islam terbesar di Indonesia timur. Siapa sangka duta perdamaian yang mengakurkan dua kerajaan islam di kepulauan Maluku : Ternate dan Tidore akan berperang melawan kolonialisme? Puteri kesayangan Sultan Al Mansur  (1512-1526) pemimpin Kesultanan Tidore, pernah memimpin rakyat Ternate serta menggerakan Bobato  untuk melawan Portugis yang coba merongrong kedaulatan kesultanan Ternate. Sultanah Nukila adalah perempuan pertama Indonesia melawan Imperialisme abad ke-16, jauh sebelum Kartini dll lahir. Istri Sultan Bayanullah (1500-1522) adalah perempuan yang mengharmoniskan hubungan Kesultanan Ternate dan Tidore sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa.

Perempuan

Berbicara tentang perempuan tak terlepas dari wacana peradaban, karena dari rahimnya lahir peradaban serta diatas pundaknya lestarilah peradaban. Jika Makmur perempuan, maka sudah tentu makmurlah suatu bangsa. Jika dalam tubuh laki-laki  terdapat ketidakadilan hak, maka dalam tubuh perempuan bersarang segala akumulasi ketidakadilan; baik ekonomi, politik, budaya, sosial dll. Perempuan teralienasi dari ruang-ruang publik dan dimarginalkan sebagai koncowiking. Devaluasi nilai perempuan secara sistemik mentransformasi prespektif terhadap perempuan sebagai suatu yang subjek menjadi nilai intrisik yang objek sehingga perempuan terisolasi secara degradatife menjadi other. Alienasi inilah yang menjadi ladang subur tumbuhnya tendensi kultural phallogosentris hingga performativitas gender.

Konsepsi Aristoteles yang mengatakan perempuan adalah “makhluk yang dikutuk oleh semesta dengan suatu kecatatan alamiah”, telah berhasil menghegemoni ilmu pengetahuan dan sains dalam melestarikan patriarkhi serta mengalienasi perempuan. Perempuan adalah ibu bagi anak, perempuan adalah anak bagi orang tua, perempuan adalah istri bagi suami dan perempuan adalah the second seks dalam peradaban. Berbagai bias gender yang tekonstruk sebagai buah dari ketidakadilan perlakuan dalam relasi; diantaranya marginalisasi, subordinasi, kekerasan, beban ganda, dan streotipe.

Tanggal 8 maret diperingati sebagai hari perempuan internasional (Internasional Women’s Day) perayaan sejarah revolusione ketika perubahan besar terjadi diera industrialisasi dunia menghasilkan perubahan status perempuan diruang publik dan privat. Hari perempuan internasional bukan perayaan perempuan sebagai jenis kelamin (seks), sebab jika demikian mendiskriminasikan laki-laki sebagai jenis kelamin lainnya. Sejatinya gerakan politik perempuan bukan untuk mengangkat bendera perlawanan terhadap laki-laki, Gerakan politik perempuan adalah bentuk kesadaran akibat adanya ketimpangan relasi. Simon de Beavoir mengatakan bahwa “perempuan tidak diciptakan menjadi perempuan namun dikonstruk menjadi perempuan”.

Revolusi Industri 4.0

Sejarah mencatat bawah perkembangan revolusi Industri turut membebaskan perempuan dan menjadi fasilitas agenda-agenda perjuangan politik perempuan,sebut saja revolusi industry 1.0 abad 18 ditandai oleh mekanisasi alat-alat produksi pertanian dari hewan ke mesin. Saat yang sama gerakan feminis gelombang pertama lahir sebagai protes atas kesenjangan politik terutama dalam memperjuangkan hak pilih dan emansipasi perempuan di bidang politik (lahirlah feminis liberal, radikal, marxis dan anarkis). Revolusi industry 2.0 ditandai dengan kemunculan pembangkit listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber), penemuan ini melahirkan peswat telpon, mobil, pesawat penerbangan dll, direntang itupun feminis gembong kedua bergerilya mencangkup feminis eksistensial dan feminis gynosentris. Industry 3.0 ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet dan secara bersamaan lahirlah feminis gelombang ke 3 atau lebih dikenal dengan feminis postmodern sebagai rujukan para feminis modern. Aliran feminis   gelombang ketiga yaitu feminis multicultural, feminis global, ekofeminis dan postmoderen. Dan kini waktu membawa kita memasuki revolusi industry 4.0 yang ditandai dengan kemunculan supercomputer, editing genetic, robotic dan perkembangan neuroteknologi yang lebih memungkinkan manusia mengoptimalkan fungsi otak. Sejalan dengan masuknya industry 4.0, pemberdayaan perempuan diberbagai sektor mulai berkembang dan nantinya berujung pada pencapaian apa masih menjadi sebuah misteri

Digitalisasi, computing power dan data analytic telah melahirkan terobosan-terobosan diberbagai bidang, mendisrupsi kehidupan peradaban baik lanskap ekonomi global, nasional maupun daerah. Sejatinya tegnologi itu netral, yang dibutuhkan adalah skil dan kempampuan manusia tanpa mengidentifikasi jenis kelamin. Prof. Klaus Schwab (2017), ekonom terkenal yang pertama mengenalkan konsep revolusi industry 4.0 yang memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang luas. Kemajuan teknologi yang mengitegrasi dunia fisik, digital dan biologi telah mempengaruhi semua ekonomi, industry dan pemerintah. Dengan lahirnya revolusi industry 4.0 kesempatan bagi perempuan semakin terbuka lebar, sebab kecerdasan buatan (artificial intelligence), teknologi nano, bioteknologi, teknologi kuantu dll bukan sistem patrirkhi yang mempermasalahkan bias gender.

Rencana strategi UN Women, inovasi dan teknologi sebagai penggerak perubahan adalah prioritas dengan mengembangkan kemampuan perempuan dalam bidang TIK, agar mempercepat tercapainya kesetaraan gender. Perempuan milenial wajib memiliki kemampuan literasi data, teknologi dan literasi manusia.

Setiap perempuan harus sadar akan potensi dalam dirinya, seperti Nukila yang mematahkan streotipe bagi perempuan (abad 16M), bahkan jauh sebelum lahirnya teory dan paham feminis. Perempuan tidak akan terbebas dan bergerak maju, jika terus berkutak pada wacana 30% dan kebodohan, tanpa solidaritas perempuan akan terus tertinggal dalam peradaban. Revolusi industry 4.0 adalah wadah perempuan mengaktualisasikan kemampuan dan potensi dalam diri, seperti Nukila sang ratu diatas tanah para raja-raja.

Komentar