oleh

Valentine’s Day dan Deklinasi Budaya Indonesia

-Opini-942 views
Ummulkhairy M Dun

Valentine day atau istilah lainnya Santo Valentinus bukanlah hal yang baru bagi masyarakat dunia tidak kecuali masyarakat Indonesia. Milenial yang menajdi bagian masyarakat paling dominasi di Indonesia turut mengenal dan memaknai istilah Valentine ini. Dalam Wikipedia Indoensia dipaparkan bahwa Valentine’s Day atau dalam bahasa Indonesia Hari Valentine memiliki makna sebagai Hari Kasih Sayang, sebuah hari di mana para kekasih dan orang-orang yang sedang jatuh cinta menyatakan cintanya di dunia Barat. Hari Valentine ini dirayakan setiap tahun oleh masyarakat dunia tepat pada tanggal 14 Februari.

Dalam sebuah perayaan hari baik internasional maupun nasional, tentu memiliki sebab dirayakannya hari tersebut. Hal ini pun diaminkan oleh perayaan Hari Valentine. Dari pelbagai literatur baik online maupun cetak ditemukan adanya sejarah Hari Valentine ini. Namun dalam mengkaji sejarah Hari Valentine ini terdapat dua versi yang memiliki disparitas. Versi yang pertama yaitu versi St. Valentinus dan Claudius II.

Dalam versi ini dinyatakan bahwa penamaan Valentine diambil dari nama salah seorang pendeta Roma yaitu Valentine yang memiliki pemimpin kaisar bernama Claudius II. Valentine dalam kisah ini dinobatkan sebagai sosok suci yang dibunuh pada tanggal 14 Februari 278 Masehi atas perintah sang kaisar Claudius II. Tragedi pembunuhan Valentine ini memiliki alasan, Valentine dibunuh karena melanggar aturan sang kaisar yang mengharamkan bala tentaranya untuk menikah pada saat itu. Tanpa takut, Valentine melaksanakan pernikahan pada waktu yang sama sebelum tragedi pembunuhan terjadi. Apresiasi pun disodorkan kepada Valentine karena keberaniannya dalam membuktikan cintanya. Dengan tulisan “from your valentine”, Valentino dijuluki sebagai ‘Santo Valentinus’ yang bermakna orang suci.

Masih dalam sejarah Hari Valentine, berbeda dengan versi pertama, versi kedua ini dikenal dengan versi menurut Festival Lupercalia. Salah satu tokoh yang menjadi pelopor versi ini adalah J.A North. Festival Lupercalia sendiri merupakan sebuah tradisi berbaur seks sejak masa Romawi Kuno. Versi kedua ini dianggap kurang kuat karena perayaan festival ini jatuh pada tanggal 15 Februari atau satu hari setelah perayaan Hari Valentine. Hal ini tentu tidak sesuai dengan fakta terkait waktu perayaan Hari Valentine.

Secara historis, kedua versi di atas telah dibenarkan oleh literatur tentang perayaan Hari Valentine. Tanpa mengurangi nilai dari kedua versi di atas, kini Hari Valentine sering menjadi trend di pelbagai negara di dunia dengan melakukan euforia. Dengan penjelasan historis di atas, maka dapat dipahami bahwa Hari Valentine merupakan budaya Barat yang dilakukan oleh para pasangan kekasih atau orang-orang yang saling mencintai dan menyayangi.

Seiring berjalannya waktu, Hari Valentine menjadi waktu yang dinanti-nantikan para milenial Indonesia. Mengapa tidak? Tepat pukul 00.01 pada tanggal 14 Februari, para milenial menyibukkan diri untuk menghubungi kekasihnya dan saling mengucapkan “Happy Valentine’s Day, Sayang”. Hal ini pun berlanjut dengan saling bertukar hadiah, namun yang lebih dominan adalah pemberian hadiah oleh sang kekasih laki-laki. Supaya memiliki kesan romantis dan bertajuk cinta, hadiah yang diberikan dapat berupa coklat disertai kartu ucapan cinta yang dibungkus dengan kertas bermotif dan berwarna seperti hati.

Selain itu, beberapa wilayah di Indonesia terutama daerah perkotaan ikut meramaikan Hari Valentine. Hal ini dibuktikan dengan adanya izin dari pemerintah setempat kepada pihak terkait dalam menyelenggarakan kegiatan bertajuk Hari Valentine. Perayaan Hari Valentine ini dapat berupa konser artis, dinner massal pasangan kekasih, atau pemberian voucher discount produk di sejumlah pusat pembelanjaan dalam rangka Hari Valentine.

Tidak berhenti di dunia nyata. Hastag atau tagar di media sosial pun turut meramaikan Hari Valentine. Bukan menjadi soal jika milenial Indonesia eksis dalam dunia maya. Hal ini berangkat dari survei yang dilakukan oleh Wearsocial pada Januari 2017 yang menyatakan bahwa Indonesia termasuk dalam urutan ke-5 tingkat kecerewetan di media sosial. Itulah sebabnya, jika dalam perayaan Hari Valentine ini warganet Indoensia yang didominasi oleh milenial juga memanfaatkan gadget dalam menyampaikan kesan dan pesannya pada hari Valentine.

Hari Valentine berhasil menerobos antusiasme milenial Indonesia. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa Hari Valentine merupakan budaya Barat. Hal ini berarti bukan budaya Indonesia. Tidak dapat dinafikan bahwa derasnya arus globalisasi yang membuat sebagian besar budaya Barat berhasil masuk Indonesia tanpa adanya penyaringan yang ketat. Dalam beberapa tahun terakhir ini, terdapat beberapa penolakan terhadap perayaan Hari Valentine oleh umat Islam. Yang menjadi alasannya adalah Hari valentine berkaitan dengan larangan Islam yaitu budaya Barat berupa pacaran. Selain itu, dalam sejarah Islam tidak dikenal dengan peristiwa semacam Valentine.

Jika kita melihat dari segi agama, maka sangat jelas bahwa perayaan Hari Valentine ini berkaitan dengan peristiwa oleh penganut agama Kristen. Tidak ada yang salah dalam perayaan Hari Valentine ini. Perayaan ini akan menjadi salah jika dipandang dalam sudut pandang yang berbeda sebagaimana Islam memandang.

Dalam sudut pandang keIndonesiaan, tentu kehadiran Hari Valentine di Indonesia mulai menjadi polemik. Pasalnya, kehadiran Hari Valentine ini dapat memudarkan nasionalisme anak bangsa terutama generasi milenial. Mereka disibukkan dengan agenda perayaan budaya Barat. Sementara beberapa perayaan hari bersejarah di Indonesia hampir dilupakan oleh sebagian generasi milenial. hal ini menjadi semakin serius dikarenakan amanat yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945 tidak sempurna dalam penerapannya oleh milenial.

Yang menjadi lebih ironis adalah perayaan Hari Valentine lebih ramai dan mendapatkan respon antusias oleh milenial dibandingkan dengan peringatan hari bersejarah baik keagamaan maupun keIndonesiaan. Jika hal ini tidak dapat direduksi oleh kita sendiri maka dapat terjadi deklinasi budaya Indonesia oleh budaya Barat.

Atas dasar inilah kita diharamkan untuk diam. Sebagai generasi penerus bangsa, kita harus peka terhadap keadaan negara kita. Berikut ini adalah beberapa tawaran yang akan disampaikan sebagai bentuk untuk meniadakan deklinasi terhadap budaya Indonesia. Yang pertama, sebagai pengatur dan penggerak negara ini dibutuhkan adanya tindakan preventif dari pemerintah berupa regulasi terkait pembatasan terhadap perayaan hari-hari besar yang berbudaya Barat. Kedua, pemerintah melalui Kemdikbud dapat melakukan kebijakan terkait pendidikan berbasis localwisdom atau kearifan lokal. Ketiga, untuk generasi milenial diharapkan agar lebih memilih dan memilah budaya Barat untuk dikonsumsi dan tidak termakan oleh ketenaran Barat. Keempat, sebagai masyarakat awwam yang aktif dalam media sosial diharapkan agar tidak asal mengikuti keramaian dalam membuat konten terkait budaya Barat yang kurang bermanfaat dan dapat mereduksi budaya Indonesia. Sebagai penutup, mengutip apa yang disampaiakan oleh Nurcholish Madjid bahwa Modernisasi adalah Rasionalisasi bukan Westernisasi.

Penulis:
Ummulkhairy M Dun
Mahasiswa IAIN Ternate
Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar