oleh

Natalius Pigai Dengan Ali Mochtar Ngabalin Beda Pendapat Soal Jumlah Anggota OPM

-Nasional-596 views
Natalius Pigai dan Ali Mochtar Ngabalin

Jakarta – Natalius Pigai merupakan mantan anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia periode 2012 – 2017.

Ia lahir di Kabupaten Paniai, Papua 28 Juni 1975.

Sedangkan Ali Mochtar Ngabalin pernah menjadi anggota Komisi I DPR RI periode 2004-2009.

Pria kelahiran Fakfak, Papua Barat, 25 Desember 1968, sekarang menjadi Tenaga Ahli di Kantor Kepala Staf Kepresidenan.

Saat kondisi memanas di Papua setelah terjadi pembantai terhadap puluhan pekerja membuat berbagai media membahas peristiwa tersebut dari berbagai sisi.

Dua pria kelahiran Papua ini ikut menjadi narasumber dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi di TV One, Sabtu (8/12/2018).

Natalius Pigai memberikan penjelasan soal awal mula gerakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menembak puluhan orang di Papua.

Natalius Pigai menjelaskan awal mula KKB berdiri menurut pendapat dirinya.

“Itu bukan baru, dimulai pertama kali ketika dimulai integrasi politik ke dalam Republik Indonesia, pada saat penentuan pendapat rakyat tahun 1969 itu kan proses penentuan pendapat rakyat banyak yang tidak menerima dan sebagian menerima karena yang menerima itu tokoh terdidik pada saat itu yang sudah dipegang oleh Pemerintah Indonesia,”.

“Mereka yang menolak proses itu yang menjadi bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) karena imajinasinya keinginannya membentuk sebuah negara bangsa di Papua,”.

“Indikator negara bangsa itu dengan adanya bendera, lagu kebangsaan, lambang, wilayah, jumlah penduduk, karena mereka menolak berintegrasi maka mereka berjuang dengan kontak senjata yang disebut tentara nasional pembebasan Papua Barat, yang sekarang disebut KKB,” kata Natalius Pigai.

Ia menambahkan, hingga kini kelompok tersebut masih eksis dan menjadi kuat.

“Itu dibentuk 1961 sampai sekarang masih eksis dan tidak pernah pecah suaranya tunggal, berarti organisasi itu sudah kuat sebagai salah satu organisasi yang memperjuangkan negara bangsa seperti tempat-tempat yang lain,” tambahnya.

Pembawa acara pun menyela perkataan Natalius Pigai yang mengatakan bahwa kelompok itu saat ini telah menjadi kuat dan besar.

“Sebentar Bang, tadi penting pernyataan abang organisasi itu besar dan kuat, tanggapannya bang (Ngabalin)?,” tanya pembawa acara.

Ngabalin yang menjadi narasumber dengan video conference tersebut mengatakan bahwa sesuai data dari kepolisian, kelompok itu kecil dan hanya berjumlah 25 orang.

“Kalau data yang resmi yang harus dipegang oleh Republik Indonesia termasuk TV One adalah data dari Kapolri, pernyataan Kapolri menyebutkan kelompok bersenjata itu kecil hanya 25 orang, itu pernyataan resmi,” ujarnya.

Pernyataan Ngabalin itu langsung disanggah oleh Natalius Pigai.

Menurut Pigai kelompok itu telah diakui secara internasional dan memang bersiap untuk berperang.

“Bagaimana 25 orang, OPM itu sudah diakui internasional kok, jadi tidak usah menyederhanakan, mereka sudah biasa berhadapan, sudah dari dulu OPM itu musuhnya tentara atau polisi dalam hukum international di antara mereka dalam hukum humaniter,” kata Natalius.

Ngabalin menjawab bahwa peperangan antara TNI dan OPM memang sudah diatur dalam hukum internasional namun ada regulasi untuk undang-undang di Indonesia.

“Ada tugas pokok dalam perang yang diatur regulasi, jadi kalau bisa Natalius Pigai referensi yang dipakai itu UU di sini,” tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, puluhan pekerja bangunan di Kali Yigi-Kali Aurak, Nduga, Papua dinyatakan meninggal dunia setelah ditembak oleh KKB.

Media-media internasional pun turut menyoroti peristiwa penembakan tersebut.

Seperti dikutip dari Kompas.com, media Amerika The New York Times menuliskan “Penembak Bunuh 31 Pekerja Konstruksi di Provinsi Papua, Indonesia, Kata Petugas” pada berita mereka.

Berdasarkan dugaan dari pihak kepolisian, penembakan ini didalangi oleh KKB yang dipimpin oleh Egianus Kogoya dan dilakukan pada Minggu (2/12/2018).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *