oleh

Jawaban Tito Karnavian Terkait Isu Manuver Pelengserannya

-Nasional-206 views
Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

Jakarta – Tuduhan aliran dana dari pengusaha Basuki Hariman kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian melebar menjadi isu adanya gonjang-ganjing di tubuh Polri. Ada petinggi di Kepolisian disinyalir melakukan manuver untuk menggoyang posisi tertimggi di Kepolisian itu.

Hal ini disampaikan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane. Menurutnya, ada indikasi gerakan pengkhianatan di korps kepolisian itu.

Gerakan ini juga tidak sekadar hendak mendongkel kepemimpinan Tito Karnavian saja. Akan tetapi ada upaya merontokkan citra Jokowi sebagai presiden untuk menjegal suara Pilpres 2019.

Neta menyebut Indikasi pengkhianatan itu, telah memecah Polri dan membuat elit Polri tidak solid sejak sebulan terakhir.

“Kondisi ini sangat ironis, terutama menjelang tahun politik dimana Polri harus solid dalam menjaga keamanan,” ia menegaskan.

Ditegaskan Neta, bahwa indikasi pengkhianatan itu berkaitan dengan maraknya kasus Buku Merah yang menimbulkan pro kontra di masyarakat.

Sebab itu, kasus ini tidak bisa dibiarkan berlarut larut hingga menjadi ancaman keamanan di tahun politik dan mengganggu Pilpres 2019.

“Untuk itu indikasi pengkhianatan di tubuh kepolisian harus segera dibersihkan agar Polri tetap solid menghadapi Pilpres 2019 dan keamanan negeri ini tetap terjaga,” katanya.

Sementara Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Arief Poyuono menilai ada keganjilan dari dugaan aliran dana Basuki Hariman kepada Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, yang tercatat dalam buku bank bersampul merah atas nama Serang Noer IR. “Ada keanehan, yang jadi sasaran tembak hanyalah Tito Karnavian,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam laporan hasil investigasi beberapa media yang tergabung dalam platform online  Indonesialeaks, menyebut Basuki Hariman yang menjadi salah satu tersangka dalam Kasus impor daging oleh KPK, beberapa kali telah memberikan dana ke beberapa pejabat.

Aliran dana itu tercatat pada sebuah buku bersampul merah yang disita KPK. Indonesialeaks sendiri hanya menyebut salah satu pejabat itu adalah Tito Karnavian, Kapolda Metro Jaya ketika itu.

Tuduhan ke Tito semakin kuat, karena ada beberapa indikasi, barang bukti yang  mengarah ke dirinya, sempat dihilangkan oleh dua penylidik di KPK.

“Ini sebuah bentuk ketidakadilan terhadap Tito Karnavian yang sepertinya ada operasi terstruktur untuk mencopot Tito Karnavian dari posisi Kapolri,” kata Arief Poyuono.

Anggapan yang sama juga disampaikan Politisi PDI Perjuangan, Masinton Pasaribu. Ia menduga ada persaingan di tubuh perwira Polri yang berupaya menjatuhkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Menurutnya, upaya tersebut dilakukan lewat isu dugaan Tito menerima gratifikasi dari pengusaha Basuki Hariman dalam kasus suap impor daging.

“(Isu gratifikasi) target utamanya adalah untuk mengganti Jenderal Polisi Tito Karnavian sebagai Kapolri,” ujar Masinton.

Ditemui dalam sebuah wawancara khusus Majalah GATRA pekan lalu, Tito Karnavian tak menampik anggapan bahwa di lembaganya saat ini sedang terjadi pergesekan akibat banyaknya petinggi yang saling incar jabatan.

“Kami sekarang lagi mengalami dampak ledakan Kombes, karena semenjak angkatan lulus 1984 itu rekrutmennya cukup banyak, padahal angkatan 1982 itu cuma 46 orang, Jadi kalau enggak melanggar saja, dia jadi bintang karena jabatan menunggu dia,” paparnya.

Namun, sejak angkatan 1984 terjadi rekrutmen yang cukup besar. “Angkatan saya sendiri (Angkatan 87) kan hampir 200, paling banyak angkatan 88, jadi dua angkatan sekaligus 88A dan 88B jumlahnya 400,” jelas Tito.

Setelah itu, di setiap angkatan setidaknya ada 200 orang. Dengan jumlah yang besar ini, ujungnya kini personil Polri dengan pangkat Kombes hampir 1.300-1.400 orang.

Selain ingin berebut jabatan, Polisi berpangkat tinggi juga mengincar pangkat bintang, sementara bintang satu saat ini jumlahnya ada 200-an lebih. “Dan itu pun setelah saya buka jabatan di BNN, hingga memperbesar organisasi dan lain-lain,” kata Tito.

Bila ada 1.300 komisaris besar memperebutkan posisi bintang satu, maka ini tak sepadan dengan yang pensiun, karena dalam satu tahun, bintang satu yang pensiun hanya sekitar 50 orang. “Bisa dibayangkan  betapa berat beban saya,” ujar Tito.

Di sisi lain, yang sudah bintang satu, rata-rata ingin jadi Kapolda atau Wakapolda atau ingin menjadi bintang dua. Ada 21 kapolda yang bintang dua. Mereka berebut mendapatkan bintang tiga.

Saat ini jumlah bintang tiga, ada 9 orang. Di struktur ada 6.  Di luar struktur ada 3 : kepala BNN, Sestama Lemhanas, dan Kepala BNPT.

Lalu yang bintang tiga, pastinya tak sabar ingin menjadi Kapolri. “Maka saya dalam berbagai kesempatan selalu saya sampaikan, saya tidak ingin menjadi Kapolri sampai dengan usia pensiun 2022, terlalu lama,” papar Tito.

Tito mengibaratkan, Polri seperti kereta ada lokomotif dan gerbong. Lokomotifnya para pimpinan seperti dirinya. “Kalau lokomotifnya berhenti maka gerbongnya semua berhenti. saya tidak menginginkan itu terjadi,” ujarnya.

Karenanya, ia pun ingin sebelum usia pensiun, sudah mundur dari jabatannya, dan memberikan kesempatan agar keretanya bergerak bersama gerbongnya sehingga yang lain juga punya harapan untuk bergerak.

“Karena kalau Kapolri bergerak, otomatis posisi bisa maju, yang bintang tiga dan bintang dua senior. Maka akan berpengaruh kepada yang lain untuk terjadi regenerasi,” papar Tito. Ia mengakui, ketika menjabat Kapolri Juli 2016 karena dirinya Angkatan 87 termasuk junior. Dan saat itu ada sekitar 80% perwira tinggi yang adalah seniornya.

Dan ini  tidak  gampang untuk mengelolanya sendiri. “Bagaimana menjaga perasaan senior, bagaimana menjauhkan benturan, kecemburuan mungkin ke saya tinggi juga,” katanya.

Karena itu, ia selalu menghormati pada senior dan menjaga keseimbangan. “Saya selalu menyampaikan bahwa saya bukan milik angkatan 87, tapi milik semua angkatan, jadi saya harus perhatikan semua,” ujar Tito.

Lalu, apakah memang benar ada gerakan menggoyang dirinya melalui isu skandal Buku Merah ini. Tito menyatakan, publik yang bisa menilainya.

“Ini kan sudah kita tangani tahun lalu, tapi baru muncul sekarang menjelang tahun politik pilpres. Kapolri adalah salah satu figur penting dalam menjaga stabilitas keamanan. Bagi saya yang penting tetap saja bekerja. Fokus saja karena masih banyak urusan perkerjaan,” katanya. (Qadra)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *