Pasca Reuni 212, Hasil Survei : Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Terus Merosot

Siapa Effendi Gazali

Dikutip dari wikipedia, Effendi Gazali memiliki gelar Ph.D., MPS ID, dan lahir di Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 5 Desember 1966.

Effendi Gazali adalah tokoh Indonesia yang terkenal dengan acara yang digagasnya yaitu Republik Mimpi yang merupakan parodi dari Indonesia dan para presidennya.

Effendi sekarang ini merupakan salah satu staf pengajar program pascasarjana ilmu komunikasi Universitas Indonesia.

Effendi lulus sarjana dalam bidang Komunikasi Universitas Indonesia tahun 1990, kemudian mendapatkan gelar Master dalam bidang Komunikasi dari universitas yang sama pada 1996.

Serta Master dalam bidang International Development (konsentrasi: International Communication) dari Universitas Cornell Ithaca, New York tahun 2000. Gelar Ph.D. dalam bidang Komunikasi Politik kemudian diperolehkan dari Radboud Nijmegen University Belanda tahun 2004 dengan disertasi “Communication of Politics & Politics of Communication in Indonesia: A Study on Media Performance, Responsibility, and Accountability” (diterbitkan oleh: Radboud University Press, Belanda, 2004)

Beberapa penghargaan yang diperolehnya antara lain adalah sebagai salah satu Peneliti Terbaik UI 2003 di bidang Social & Humanity berdasarkan publikasi di jurnal internasional serta penerima ICA (International Communication Association) Award, pada ICA Annual Conference, di New Orleans Mei 2004 untuk Research, Teaching & Publication (dari the ICA Instructional & Developmental Division).

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Merosot

Sementara itu masih dari acara ILC Tv One, Rico Marbun, Direktur Eksekutif Median, menyebut bahwa elektabilitas Jokowi-Ma’ruf cenderung merosot.

Baca Juga:  Sashabila - Yasir Dinilai Layak Pimpin Taliabu

Bahkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf tak masuk dalam kategori petahana yang bisa dianggap sukses.

“Jadi disurvey yang kami lakukan di awal bulau ini jokowi-maruf di 47,7 persen, kemudian angka pasangan prabowo sandiagaitu 35,5 persen. itu artinya ada selisih kurang lebih 12 ,2 persen. selisih elektabilitasnya,” kata Rico Marbun.

Menurut Rico Marbun angka ini sebenarnya merupakan warning.

“Warningnya adalah jangan lupa beliau ini adalah petahanan,.dan kita lihat pengalaman dari pilkada di banyak tempat, seharusnya kalau petahana itu dianggap sukses atau berhasil ,umumnya elektabilitasnya akan dengan mudah menyentuh di angka 60 sampai 70 persen,” ujar Rico Marbun. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *