oleh

Petani Kopra Menjerit, Ribuan Mahasiswa Berjuang

-Daerah-373 views

TERNATE –  Bukan Mahasiswa namanya, jika tidak berjuang untuk kepentingan Rakyat.

Senin, 19 November 2018 dan kamis 22 November 2018 menjadi lembaran baru dalam sejarah gerakan Mahasiswa Maluku Utara. Dalam Bingkai juang dan pengorbanan itu, bertuliskan asa yang melangit di dada. Bertintakan  Air mata anak bangsa yang berderai di jalanan. Amukan lantang melucuti nasib rakyat yang melarat, memuntahkan amarah atas pembiaran derita kehidupan Petani yang tida pasti diseriusi tuan berdasi. (Hamdan Halteng)

Jalanan Kampus I Universitas Khairun dan Bandara Sultan Babullah Ternate  dibanjiri lautan Mahasiswa begitu juga di sepanjang kantor ex Gubernur dan kediaman Gubernur Maluku Utara. Begitulah lanskap terekam mata. Ribuan Mahasiswa tumpah-ruah  turun ke jalan menuntut kenaikan harga kopra yang  melemah kronis dan menyengsarakan Petani Kopra di Halmahera,Bacan, Sanana, polosok desa-desa lainya.

Di ujung Utara Kelurahan Akehuda hingga Selatan jauh Gambesi,  ribuan Mahasiswa dan anak Sekoloh tingkat SMA menuntut keadilan dengan berjalan kaki dari kampus menuju kediaman Gubernur.

Perjalanan kurang lebih dari 20 km dari Selatan Gambesi masa aksi menuju Kantor ex Gubernur Malut dan Kediaman Gubernur Malut, guna meminta segera naikan Harga Kopra. Di tengah terik matahari, mereka melakukan longmarch dari Sasa-Gambesi Kampus Universitas Khairun, UMMU,Stikip Kieraha, dari Akehuda,  semangat ribuan Mahasiswa ini tidak pudar.

Selama perjalanan mereka juga terus berorasi dengan membawa berbagai macam poster seperti bertuliskan ‘Naikan Harga Kopra biar kami bisa sekolah lagi’ ‘kopra Maluku Utara adalah Harga diri Kami’.

Massa aksi yang berdatangan dari Perguruan Tinggi di Ternate  menyusuri jalan dari arah selatan ke utara. Ini adalah kebangkitan yang kesekian kali, ketika di tengah situasi yang tak menentu, Petani Kopra menjerit, tuan-tuan berdasi sibuk urus diri sendiri.

Bahkan pun doyan-ramai menghujam investasi Sumber Daya Alam tiada henti di daratan yang tipis ini. Sikap arogan memprimadonakan Sawit dan tambang melulu dan menganggap remeh jutaan nasib petani kopra yang tak tertolong harga timbangannya, malah menjadi pemdangan yang dielu banggakan oleh penguasa. (hamdan)

Bersatulah. Demokrasi tanpa jerit rakyat, demokrasi tanpa tangis bayi akibat  arogansi politisi dan penguasa yang lupa diri.

Doa dan Tangis Rakyat Melarat adalah kekuatan Maha Dasyat konsistensi Koalisi Perjungan Rakyat (KOPRA).

#Perjuangan ini tidak akan usai.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *