“Saat itu terjadi puncak krisis dimensi. Topeng terbuka; terlihat bahwa bangsa kita mengalami krisis samapi ke bagian yang tersembunyi. Nilai nasionalisme terlihat tidak ada; tolong menolong, kesatuan persatuan, gotong-royong, semua hampir tidak terlihat. Terlihat oleh kita sebuah lobang besar, krisis moralitas terjadi,” jelasnya.
Puncaknya, terlihat bahwa Pancasila hanya sekedar hapalan.
“Pancasila diajarkan hanya untuk dihafalkan. Tapi perilaku menurut Pancasila tidak terlihat. Ini salah siapa? Inilah yang perlu kita refleksikan untuk menjadi bekal kita berikutnya,” seru Benny.
Pakar komunikasi politik ini juga memberikan perhatian pada gaya hidup anak muda saat ini, yang terkesan hedonis.
