oleh

Bentrok Dengan Aparat Kepolisian, 12 Mahasiswa Ditahan, 1 Luka Berat

-Kabar Utama-1.703 views
foto: Aksi naikan harga Kopra hingga aksi pemukulan Kepada Mahasiswa

TERNATE – Massa Aksi Cipayung Kembali menggelar aksi demonstrasi di depan Kediaman Gubernur provinsi Maluku Utara, ratusan Mahasiswa dari kelompok Cipayung ini menuntut pemerintah segera menaikan harga komoditi Kopra.

Untuk mengamankan aksi tersebut, Polres Ternate dan Polda Maluku Utara menurunkan kurang lebih 600 personil. Kamis (29/11/2018).

Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda, saat ditemui disela-sela aksi tersebut, menyampaikan personil yang diturunkan untuk pengamanan aksi ini sebanyak 600 personil. Sebelum bentrokan terjadi Kapolres Ternate ini telah menghimbau agar pelaksanaan aksi bisa berjalan dengan tertib, damai dan tidak mengganggu kepentingan masyarakat yang lain serta tidak mengganggu fasilitas – fasilitas negara yang dapat menghambat fungsi pelayanan masyarakat,” kata Kapolres

Aksi yang dilakukan kelompok Cipayung ini di temui langsung Gubernur provinsi Maluku Utara KH. Abdul Gani Kasuba, Lc didampingi Kepala Dinas Perikanan, Buyung Radjilun.

Dalam pertemuan terbuka itu, massa aksi yang dikordinir langsung oleh OKP Cipayung (PMII, HMI, GMNI, KAMMI, GMKI) ini menuntut agar Gubernur KH Abdul Gani Kasuba menandatangani MoU (Perjanjian) Okp Cipayung Plus dalam hal penanganan Kenaikan Harga Kopra menjadi Rp. 8.000- dalam waktu 1×24 jam.

Namun Gubernur Maluku Utara meminta waktu kepada massa aksi agar mempelajari dulu isi MoU tersebut. Tak lama saat gubernur meninggalkan massa aksi, diduga ada pihak yang sengaja masuk membuat suasana menjadi Ceos, bentrokan dan saling kejar-kejaran pun terjadi.

Saat ini sebanyak 12 orang massa aksi yang dianggap provokator ditahan oleh Polres Ternate, satu orang massa aksi diduga dianiaya oknum kepolisian mengalami luka parah dibagian kepalanya.

 

Polisi Diduga Aniaya Mahasiswa

Penganiayan kepada Mahasiswa saat dirawat di Rumas Sakit

Riskiawan Hasan Alias Wawan (20) mahasiswa semester 3 ini diduga menjadi korban penganiayaan oknum anggota polisi, pada saat mengamankan aksi demonstrasi harga kopra di depan rumah dinas Gubernur Maluku Utara, tepatnya di Kelurahan Kalumpang, Ternate Tengah.

Wawan diduga dianiaya oknum aparat kepolisian Polres Ternate, hingga nyaris tewas. Aksi serang antara pihak kepolisian dengan ribuan massa aksi terjadi pada pukul 12:00 WIT, kemudian tensi mulai memanas dan polisi kemudian mengeluarkan tembakan gas air mata di kerumunan massa aksi.

Polisi kemudian berhasil memukul mundur para demonstran dari cipayung ini, tepatnya pada pukul 15:30. WIT, konsentrasi massa pun sudah mulai memanas sehingga Polisi terpaksa mengeluarkan tembakan gas air mata secara rentetan.

Akibatnya kericuhan pun terjadi, Polisi berhasil mengamankan beberapa mahasiswa. Salah satunya Riskiawan Hasan (Wawan), namun karena diduga dianiaya oknum Polisi Wawan mengalami luka kritis, hingga mengeluarkan dara di mulutnya. Pada pukul 17: 25 WIT, melihat keadaan Wawan yang sudah kritis. Rekan-rekan massa aksi kemudian melarikan Wawan ke Rumah Sakit Tentara (RST) untuk dilakukan perawatan.

Sesampainya di RS tentara pada pukul 17: 54 WIT, Wawan kemudian mendapat perawatan dari tim medis RS Tentara. Namun karena melihat Wawan semakin kritis rekan-rekan massa aksi kemudian rujuk Wawan ke RS Umum Daerah Chasan Bosoire untuk dilakukan perawatan intensiv.

 

Korban di larikan ke RST lalu di rujuk ke RSUD Chasan Bosoire

Kapolres Ternate saat mengunjungi salah satu korban Mahasiswa yang diniaya

Korban saat ditemui di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Tentara (RST) atas nama Riskiawan Hasan (20), adalah Mahasiswa Institusi Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, Wawan mengaku dianiaya oleh dua orang anggota Polres Ternate.

“Saya mau lari pada saat gas air mata dilepaskan, tetapi saya dipukul (borong) oleh dua orang anggota Intel polres sampai tidak sadarkan diri, ketika sadar saya sudah di rumah sakit, tapi saya merasa kepala saya sangat berat akibat dipukuli,” kata korban dengan nada pelan saat ditemui di RST.

Kapolres Ternate: Dugaan pengeroyokan kepada Mahasiswa Masih penyelidikan

Menanggapi aksi premanisme oknum Polisi yang menyebabkan sejumlah mahasiswa terluka. Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda, menuturkan. Dugaan pengeroyokan oknum anggota Polisi, Ia mengakui masih penyelidikan

“Kan itu masih dugaan, karena pas kejadian saya juga terfokus massa. Namun yang pasti kita belum tahu apakah wawan dikeroyok ataukah tidak nanti diselidiki”  sembari mengakui sebagai bentuk pertanggung jawaban pihak Kepolisian saya sudah mendatangi korban di RS Tentara, kemudian membawa ke RSUD Chasan  Bosoire.

Disentil apakah protap pengamanan sudah sesuai SOP ataukah tidak hingga menyebabkan korban luka hingga satu dirawat di RSUD. Pada prinsipnya pengaman sudah sesuai SOP. Hanya saja karena konsentrasi massa yang begitu banyak, tidak dapat terkontrol.

“Kejadian hingga ada jatuh korban itu. Kita sudah tegur jangan anarkis. Namun masih dilakukan pelemparan batu sehingga kami menembaki gas air mata, dan massa lari sehingga diduga korban itu karena pada saat lari sehingga terjatuh,” tegasnya.

Kecam tindakan Represif Oknum Anggota Kepolisian

Praktisi Hukum, Abdul Kader Bubu

Akademisi Universitas Khairun yang juga Praktisi Hukum, Abdul Kader Bubu, mengutuk keras tindakan Represif Oknum Anggota kepolisian yang melakukan tindakan kekerasan terhadap sejumlah massa aksi yang menuntut kenaikan harga kopra.

Menurut Praktisi Hukum Universitas Khairun ini, Oknum anggota Polisi yang melakukan aksi anarkis tersebut tidak bisa diberi toleransi.  Selanjutnya menurut Dade Bubu, korban tidak terlibat dalam aksi pelemparan batu ke kerumunan masa sehingga terjadinya bentrok. Karena korban posisinya didepan massa aksi.

Dikatakan aparat Kepolisian tentunya sudah memiliki hasil identifikasi siapa saja yang melakukan pelemparan dan pasti sudah mengantongi hal itu.

“ Jangan membabi buta dan menyerang orang yang tidak terkait dengan aksi pelemparan tersebut,” kecam Dia.

Dia juga menyampikan agar, teman-teman OKP Cipayung dan seluruh massa aksi Kopra segera melakukan konsolidasi agar melaporkan ke Mabes Polri dan DPR  RI komisi terkait.

“Polisi pasti tahu cara membubarkan massa aksi dengan baik dengan benar, Hal ini harus segera disikapi karena polisi sudah salah besar dalam posisi ini,” tegas Dad Bubu yang juga presidium Komunitas Jarod Malut ini.

PMII Cabang Ternate Kecewa dengan Pihak Keamanan

Ketua Cabang PMII Ternate, Bahrun Mustafa, mengungkapkan kekecewaannya kepada pihak keamanan yang sudah menganiaya salah satu Kadersnya hingga tak sadarkan diri.

“Kami mengutuk keras aksi penganiayaan yang dilakukan oleh oknum pihak keamanan, wawan adalah kader PMII. ” tegas Bahrun

(iL)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *