oleh

Bupati Halsel dan Rombongan Shalat Id Dilokasi Pengungsian

-Daerah-581 views
Bupati Halsel, Bahrain Kasuba dan Rombongan Saat Melaksanakan Shalat Idul Adha 1440 H, Dilokasi Pengungisan, Desa Dowora Kecamatan Gane Barat Selatan, Minggu (11/8/2019) | Foto : IL/Fokus Malut.

HALSEL – Bupati Halmahera Selatan, Hi. Bahrain Kasuba beserta rombongan melaksanakan Shalat Idul Adha 1440 H, bersama ratusan korban gempa di Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat Selatan tepatnya dilapangan terbuka desa dowora. Tentunya ini menjadi Shalat Id pertama paska gempa yang terjadi 14 Juli 2019.

Pelaksanaan Shalat Id dimulai sekitar pukul 07.28 Wit dan seluruh rangkaian ibadah tersebut selesai pukul pukul 09.00 Wit, Minggu (11/8/2019).

Tampak hadir dalam pelaksanaan Shalat Id ini, Hj. Nurlela Muhammad (Kadis Pendidikan), Dr. Daud Djubedi (Staf ahli bidang pemerintahan), Anggota dan Staf Sekretariat DPRD, Kabag Humas dan Protokoler Mujiburrahman serta pemerintah desa setempat.

Bertindak sebagai Khatib, Dr. Daud Djubedi, pada kesempatan itu menyampaikan sejumlah makna penting di balik momentum Idul Adha, yakni tentang pentingnya sebuah pengorbanan untuk menuju kemuliaan.

Daud juga menuturkan bahwa pelaksanaan Hari Raya Kurban kali ini memang tidak seperti biasanya karena dilaksanakan di lokasi tenda pengungsian korban gempa.

“Kita harus mengambil hikmah atas apa yang kita alami di dunia ini. Allah memberi cobaan agar kita selalu sabar dan bisa mencari jalan keluarnya,” katanya dalam khotbah.

“Kita diingatkan untuk kembali memperbaiki kehidupan kita, mulai dari nol, Kita juga telah bersama-sama mencari solusi dengan membuat tenda sementara. Ini ujian dan kita harus kuat menghadapinya,” tambahnya lagi.

Bupati Halsel, Bahrain Kasuba tatap muka bersama warga Desa Dowora, Kecamatan Gane Barat Selatan usai Shalat Id | Foto : IL/Fokus Malut. Usai Shalat Id

Kepada media ini, warga mengaku mendapat pelajaran berharga dalam hidup mereka akibat gempa yang dialami sejak 14 Juli 2019. Meski gempa terus meneror mereka, warga tetap tabah menghadapinya dan mencoba menjalaninya dengan ikhlas.

“Kami mendapat pelajaran yang sangat berharga dari musibah ini bahwa gempa yang menguji kami warga desa dowora khususnya, tak akan membuat iman dan keteguhan serta kepercayaan kami luput dihadapan Allah Swt. ‘Torang’ (kami) tidak bisa pungkiri duka atas musibah ini, tetapi inilah makna Hari Raya Kurban yang sebenarnya,” tutur Sam, salah satu pengungsi di Desa Dowora.

Sementara itu, Bupati Halsel, Bahrain Kasuba disela-sela Usai Shalat Id, menyampaikan bahwa desa dowora selain terkena dampak bencana gempa, warga juga mengalami krisis air bersih, “Insya Allah ditahun 2020, pemerintah kabupaten akan menganggarkan anggaran pelayanan air bersih untuk desa Dowora,” tutur Bahrain dihadapan Jama’ah Shalat Id, Minggu (11/8/2019)

Bukan hanya itu, Pemerintah Kabupaten juga tetap berkomitmen untuk membangun hunian sementara (Huntara) bagi masyarakat pasca dicabutnya masa tanggap darurat menuju masa transisi selama tiga bulan kedepan, “ini bukan janji tapi tetap dibangun hunian sementara bagi seluruh masyarakat yang terkena dampak bencana gempa,” tambahnya

Pantauan Fokus Malut dilokasi pengungsian, Setelah ibadah shalat Id, yang menarik perhatian adalah walau berada di pengungsian, warga tetap menjalankan tradisi saling berkunjung dan bersalaman untuk saling memaafkan.

“Pada Lebaran Kurban tahun ini tentu rasanya berbeda. Biasanya kami berada di rumah bersama keluarga. Sekarang kami berada di tenda pengungsian. Sedih rasanya, tapi ini harus kami jalani,” ucap seorang warga kepada rekan-rekan media saat liputan dilokasi pengungsian. (IL Fcs)

Komentar