
Kepada media ini, warga mengaku mendapat pelajaran berharga dalam hidup mereka akibat gempa yang dialami sejak 14 Juli 2019. Meski gempa terus meneror mereka, warga tetap tabah menghadapinya dan mencoba menjalaninya dengan ikhlas.
“Kami mendapat pelajaran yang sangat berharga dari musibah ini bahwa gempa yang menguji kami warga desa dowora khususnya, tak akan membuat iman dan keteguhan serta kepercayaan kami luput dihadapan Allah Swt. ‘Torang’ (kami) tidak bisa pungkiri duka atas musibah ini, tetapi inilah makna Hari Raya Kurban yang sebenarnya,” tutur Sam, salah satu pengungsi di Desa Dowora.
Sementara itu, Bupati Halsel, Bahrain Kasuba disela-sela Usai Shalat Id, menyampaikan bahwa desa dowora selain terkena dampak bencana gempa, warga juga mengalami krisis air bersih, “Insya Allah ditahun 2020, pemerintah kabupaten akan menganggarkan anggaran pelayanan air bersih untuk desa Dowora,” tutur Bahrain dihadapan Jama’ah Shalat Id, Minggu (11/8/2019)
Bukan hanya itu, Pemerintah Kabupaten juga tetap berkomitmen untuk membangun hunian sementara (Huntara) bagi masyarakat pasca dicabutnya masa tanggap darurat menuju masa transisi selama tiga bulan kedepan, “ini bukan janji tapi tetap dibangun hunian sementara bagi seluruh masyarakat yang terkena dampak bencana gempa,” tambahnya
Pantauan Fokus Malut dilokasi pengungsian, Setelah ibadah shalat Id, yang menarik perhatian adalah walau berada di pengungsian, warga tetap menjalankan tradisi saling berkunjung dan bersalaman untuk saling memaafkan.
“Pada Lebaran Kurban tahun ini tentu rasanya berbeda. Biasanya kami berada di rumah bersama keluarga. Sekarang kami berada di tenda pengungsian. Sedih rasanya, tapi ini harus kami jalani,” ucap seorang warga kepada rekan-rekan media saat liputan dilokasi pengungsian. (IL Fcs)
