oleh

Divonis Menderita Penyakit Tumor, Arif Kini Kehilangan Masa Depan dan Tidak Bisa Melanjutkan Pendidikan

Laporan Fahri Sumarto, Haltim

Meski Menderita Sakit Tumor, Arif yang merupakan anak kedua dari pasangan Ajib dan Atiyah warga Transmigrasi Desa Bumi Restu Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur, kini terpaksa harus menjadi tukang ojek, untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berobat.

Keinginan Arif (20) Warga Desa Bumi Restu Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) untuk melanjutkan studi pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi kini pupus sudah, pasalnya Arif yang saat ini di vonis dokter menderita tumor pada bagian kiri tangan terpaksa harus mengurung niatnya untuk meraih pendidikan diperguruan tinggi. Keinginan Arif untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pupus, karena Arif yang menderita penyakit tumor bukan baru sekarang, tapi Arif sudah menderita penyakit Tumor sejak 20 tahun silam.

Alumni SMA Negeri 2 Wasile itu, tidak pernah patah semangat, meskipun saat ini menderita penyakit Tumor. Arif yang setiap harinya menahan sakit akibat penyakit yang dideritanya, terpaksa harus membantu Ayahnya Ajib yang saat ini telah berusia 60 tahun untuk mencari uang. Arif kini berprofesi sebagai tukang ojek, untuk membiayai hidup dan sisanya untuk beli obat jika ada kelebihan.

Ajib ayah kandung Arif ketika ditemui di rumahnya, Kamis (21/2/19) dengan senang hati menerima kunjungan wartawan, meskipun rumah mereka yang terbuat dari papan dan kelihatan sederhana, namun terlihat bahagia menikmati hidup apa adanya. Ajib yang diwawancarai kronologis anaknya menderita penyakit Tumor, sempat terdiam sejenak dan matanya langsung berkaca kaca meratapi kondisi anaknya yang kian hari semakin terpuruk, karena penyakit Tumor.

kondisi Orang Tua Arif dan tempat tinggal mereka terbuat dari papan di Wasile Halmahera Timur

Pria yang saat ini telah berusia 60 tahun itu, menyatakan, Arif terkena penyakit Tumor sejak berusia 7 bulan, kemudian saat Arif berusia 2,5 tahun dilakukan operasi yang menghabiskan uang kurang lebih Rp. 50 juta.

Setelah operasi pertama dilakukan, dokter menyuruh untuk kembali dilakukan operasi di tahun 2002 silam, namun karena keterbatasan anggaran, Arif tidak lagi dibawa ke Rumah Sakit untuk dilakukan operasi.

“Kata dokter, Arif kena tumor air, kalau tumor ganas, mungkin saat ini Arif tidak ada lagi di dunia ini,”ujar Ajib sambil meneteskan air mata.

Baca Juga:  Tiga PNS Halsel Dilaporkan Bawaslu Ke KASN

Suami Atiyah itu mengaku, meskipun kondisi Arif yang saat ini kian terpuruk akibat penyakit yang dideritanya, namun Arif tetap semangat menjalani hidupnya, sehingga sesekali Arif harus menarik sepeda motor sebagai tukang ojek.

Pria asal Bayuwangi Jawa Timur itu, saat ini berprofesi sebagai tukang jual ikan kelilin yang penghasilannya tiap hari tidak menentu, terkadang hasil yang didapat per hari Rp 50 ribu hingga Rp. 60 ribu, sehingga pengobatan untuk Arif tidak bisa dilakukan, karena untuk menutupi kebutuhan makan sehari hari saja tidak cukup.

“Segala upaya pengobatan secara tradisonal sudah dilakukan, namun kondisi anak saya kian memburuk. Saya berharap ada uluran tangan dari siapa saja yang ingin membantu kesembuahan anak saya. Semoga yang membantu anak saya dibalas oleh ALLAH SWT,”ucapnya dengan raut wajah sedih.

Pengobatan yang terus dilakukan sejak Arif masih balita dan saat ini sudah berusia 20 tahun ini, biaya yang dikeluarkan kurang lebih Rp. 100 juta. Bahkan untuk kesembuhan Arif, harta berupa tanah juga sudah dijual, namun penyakit Arif tak kunjung sembuh. Arif sendiri saat ini tinggal bersama kedua orang tuanya, karena Ika yang merupakan kakak kandung Arif saat ini sudah menikah dan tinggal di Bacan Kabupaten Halmahera Selatan.

“Arif orangnya baik, setiap hari saya selalu merasa cemas, karena takut Arif drop dan kami tidak punya persiapan apa apa. Saat ini saya hanya pasrah kepada ALLAH SWT, karena saat ini kami hanya bertiga dan sangat takut dan tidak bisa harus kehilangan anak laki laki semata wayang,”cetusnya sambil menangis.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *