oleh

Siswa Membunuh Gurunya Sendiri

-Opini-1.661 views
Darmawijaya, S.S.M.Si Direktur LSIPI Maluku Utara, Penemu Terapi Mental Terpadu (TMT) & Dosen Ilmu Sejarah Universitas Khairun Ternate

SISWA MEMBUNUH GURUNYA SENDIRI “Sebuah Catatan Penting Betapa Mendesaknya Agar Kurikulum Tauhid Bisa Dikembangkan di Indonesia”

Realitas sejarah yang buruk selalu menarik para sejarawan untuk ikut beropini dalam upaya memberikan penjesan pada masyarakat sebagai salah satu bentuk tanggungjawab sebagai seseorang yang sedang menghabiskan waktu dalam membaca dan memahami fakta-fakta sejarah sebagai alat ukur untuk memetakan ke arah mana sejarah akan bergerak. Inilah yang menarik saya untuk kembali ikut menulis sebuah opini tentang kejadian yang dialami oleh seorang guru yang dipukuli oleh siswanya sendiri yang kemudian berujung pada kematian bagi Sang Guru yang bersangkutan. Guru meninggal ditangan siswanya sendiri adalah fakta sejarah yang begitu menyedihkan hati kita sebagai orang Timur, yang dikenal sebagai orang yang begitu halus dalam bertutur dan berperilaku.

Saya memulai tulisan ini dengan mengutip tulisan Muazar Habibi, seorang psikolog sekaligus dosen di Universitas Mataram. Tulisan itu merupakan tulisan terbuka yang ditujukan pada Bapak Mendikbud RI Prof. Dr. Muhadjir Effeny, M. Ap. Muazar Habibi menulis “Inilah tragedi pendidikan yang memilukan itu, pertama kali di Indonesia. Siswa membunuh Gurunya. Mohon menjadi sebuah catatan merah sejarah pendidikan Indonesia. Kami siap membantu penataan pola pikir siswa agar tidak menjadi durhaka”. “TRAGEDI GURU BUDI…”, demikian judul tulisan terbuka dari Muazar Habibi.

Kamis, 1 Februari 2018, merupakan hari yang tidak akan dilupakan oleh Shinta, istri pak Budi yang menjadi korban dari perilaku murid yang begitu destruktif. Anak Pak Budi yang baru berumur 4 bulan langsung menjadi yatim secara tiba-tiba, tanpa diduga sebelumnya. Di lihat dari sisi profesi, Pak Budi hanyalah seorang guru honorer, sudah tentu Shinta tidak akan menerima uang pensiun. Mengapa demikian, karena uang pensiun hanya diberikan kepada keluarga, jika yang meninggal itu adalah seorang yang berstatus sebagai pegawai tetap. Siapakah yang akan menanggung beban dari keluarga Shinta bersama anaknya yang baru berumur 4 bulan. Semoga saja ada keberpihakan yang nyata dari negara untuk keluarga Pak Budi agar keluarga Pak Budi bisa sedikit terobati luka hati mereka dari musibah yang terima.

Di sisi lain, kita disuguhkan pula berita-berita yang membuat akal sehat berputar-putar untuk bisa menerima dan memahami berita tersebut secara normal. Perilaku LGBT akan dilindungi secara undang-undang dan Kapolres Aceh Utara diperiksa oleh atasan, karena ingin menyadarkan kaum waria untuk kembali pada fitrah mereka sebagai laki-laki. Berita ulama dilecehkan sudah menjadi berita yang tidak bisa lagi hitung dengan jari. Berita korupsi sudah menjadi berita yang biasa. Ada lagi berita yang membuat otak pembaca menjadi berputar-putar, yaitu berita anak SD sudah berani melakukan hubungan badan, seperti layaknya suami istri. Pemerintah yang diharapkan mampu meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat, justru sering mengeluarkan kebijakan yang membuat rakyat makin menderita dan sengsara. Di Papua, ada anak-anak Suku Asmat yang sedang mengalami gizi buruk. Mengapa negara ini semakin hari semakin membuat kita tidak boleh lagi menggunakan akal sehat, karena apabila kita menggunakan akal sehat dalam melihat realitas yang ada, maka akal sehat kita akan langsung menjadi sakit secara tiba-tiba, karena saking rumitnya persoalan bangsa ini. Kita sudah bingung untuk memetakan secara baik, mana yang pihak yang salah yang perlu diperbaiki, dan mana pihak yang benar yang perlu didukung dan dibela. Berita yang beredar sungguh beragam dan sangat dibutuhkan ketelitian tingkat tinggi untuk bisa selamat dari berita hoax yang membodohi.

Negeri Indonesia yang begitu kaya, kaya dengan sumber daya alam dan kaya dengan sumber daya manusia, namun sejak Indonesia merdeka hingga hari ini, rakyat belum sepenuhnya menikmati hasil kemerdekaan itu. Hasil kemerdekaan itu baru dinikmati oleh segelintir elit-elit yang mengelola negara ini, sedangkan sebagian besar rakyat Indonesia masih hidup dalam kemiskinan yang tiada berujung.

Menjelang tahun ke-73 dari tahun kemerdekaan Indonesia, gerak sejarah Indonesia sebagai negara, sepertinya akan bergerak pada realitas sejarah yang semakin rumit dan membingungkan, karena belum ada data-data yang bisa dijadikan pegangan, bahwa negara Indonesia akan lebih bahagia, sejahtera dan berkemajuan. Realitas ini memunculkan pertanyaan besar, yaitu akankah realitas negara Indonesia akan bergerak realitas sejarah yang begitu pahit dan memilukan hati, bagaikan hidup di dalam lubang-lubang neraka? Pertanyaan ini hanya bisa dijawabkan oleh para pemimpin dan rakyat Indonesia itu sendiri, karena merekalah yang dipercaya oleh Allah mengelola negeri yang bernama Indonesia ini.

Dalam konteks ketauhidan, sebenarnya surga dan neraka itu adalah buah dari perilaku yang dihasilkan oleh manusia sebagai khalifah di muka bumi. Dalam Teori Penciptaan, Allah menciptakan manusia bukan untuk hidup menderita di muka bumi ini. Allah menciptakan manusia agar bisa membangun kehidupan yang bahagia, sejahtera dan berkemajuan. Allah sengaja menurunkan Islam sebagai Panduan Berpikir Lurus bagi manusia agar manusia bisa menikmati hidup di bumi dengan bahagia, sejahtera dan berkemajuan. Jadi, dalam konteks ke-Indonesiaan, para pemimpin dan rakyat Indonesia mau sama-sama menjadikan Islam sebagai agama yang berinduk pada konsep Ketauhidan sebagai panduan bagi hati dan akal sehat mereka, maka peluang bangsa Indonesia untuk menikmati surga kecil-kecilan di dunia akan terbukanya dengan sendirinya. Begitu pula sebaliknya, jika para pemimpin dan rakyat Indonesia tidak bersedia menjadikan Islam yang berinduk pada konsep Ketauhidan sebagai panduan hati dan akal sehat dalam mengelola bumi yang bernama Indonesia ini, maka bangsa Indonesia pun akan merasakan neraka kecil-kecilan di dunia ini. Jadi itu semua dikembalikan kepada bangsa Indonesia itu sendiri, karena bangsa Indonesia yang akan menjalani dan merasakan baik dan buruknya. Allah hanya memberikan konsep Ketauhidan sebagai panduan yang lurus bagi hati dan pikiran manusia dalam rangka membangun kehidupan di bumi agar manusia bisa menikmati hidup yang bahagia, sejahtera dan berkemajuan yang dinikmati secara bersama-sama dengan cara yang adil dan manusiawi. Itulah salah satu tanda kebenaran Allah sebagai Tuhan Sang Pencipta.

Dalam proses menjadikan Islam sebagai solusi bangsa masih membutuhkan diskusi yang begitu panjang, sementara realitas kehidupan berbangsa dan bernegara sudah bergerak pada realitas sejarah yang begitu mengkhawatirkan. Dalam rangka memudahkan untuk memahami konsep ini, maka saya mengunakan istilah konsep Ketauhidan. Mengapa demikian, karena konsep Ketauidan ini bersifat universal dan lebih mudah dikembangkan sebagai induk ilmu pengetahuan. Dalam wacana keilmuan, konsep Ketauhidan baru mendapatkan sedikit perhatian dari para ilmuan Islam. Itulah yang membuat konsep Ketauhidan belum berkembang sebagai induk ilmu pengetahuan yang dijabarkan dalam kurikulum pendidikan.

Kurikulum pendidikan yang diajarkan secara resmi masih berinduk pada kurikulum sekuler, yaitu kurikulum yang memisahkan secara tegas antara agama dan ilmu pengetahuan manusia. Kurikulum Sekuler adalah kurikulum yang lahir dari rahim peradaban Barat setelah para ilmuan Barat mengalami pengalaman yang begitu pahit dengan agama Kristen. Kurikulum Sekuler adalah kurikulum yang sangat cacat. Kecacatan itu terletak pada pemisahan secara tegas antara agama dan ilmu pengetahuan itu sendiri. Secara global, kurikulum Sekuler telah mendorong manusia menjadi semakin rentan mengalami penyakit gangguan mental, karena kurikulum sekuler tidak mampu memberikan jawaban yang lebih pasti pada hati dan akal sehat manusia. Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “Masyarakat Sehat” sudah menjelaskan bagaimana Sekulerisme sudah mendorong masyarakat moderen menjadi masyarakat yang begitu kapitalis. Semangat kapitalis yang begitu kuat telah mendorong manusia moderen menjadi masyarakat yang mudah jatuh sakit, baik secara fisik,maupun mental.

Manusia moderen saat ini sangat membutuhkan sebuah kurikulum yang mampu memandu hati dan akal sehat mereka pada sebuah kepastian, baik secara konseptual, maupun secara perilaku. Manusia moderen sudah kenyang dengan wacana. Manusia moderen sangat butuh solusi yang lebih pasti dan terukur sesuai dengan hati dan akal sehat mereka. Dalam menyikapi masalah ini, sesuai dengan pendalaman kajian yang saya lakukan, bahwa konsep Ketauhidan merupakan suatu konsep yang berpotensi besar dalam membantu manusia moderen untuk lebih mampu mengenal konsep diri yang lebih pasti dan lebih bisa diterima oleh hati dan akal sehat manusia.

Konsep Ketauhidan ini berpeluang besar untuk dikembangkan menjadi induk ilmu pengetahuan bagi manusia moderen. Melalui Teori Penciptaan, Konsep Keatuhidan akan lebih mudah dipahami dan diterima oleh manusia moderen sebagai induk ilmu pengetahuan manusia. Inilah yang membuat saya optimis, bahwa Konsep Ketauhidan ini sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi muatan kurikulum yang membawahi seluruh mata pelajaran yang ada. Konsep Ketauhidan tidak lagi mengenal adanya pemisahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Konsep Ketauhidan justru membantu manusia moderen untuk menjadikan agama sebagai kunci kebahagiaan. Mengapa demikian, karena dalam konsep Ketauhidan, agama adalah sumber ilmu yang lurus yang menjadi panduan dasar bagi hati dan akal sehat manusia dalam membangun kehidupan di muka bumi.

Sebagai konsep yang lurus, konsep Ketauhidan akan berpotensi membantu manusia moderen untuk bisa meraih dua kebahagiaan sekaligus, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan setelah meninggalkan dunia ini, Konsep Ketauhidan akan membantu guru dan anak didik lebih mudah mengenal kebesaran Allah sebagai Tuhan Sang Pencipta pada setiap mata pelajaran. Mengapa demikian, karena menurut konsep Ketauhidan, setiap mata pelajaran yang sedang diajarkan oleh guru di dalam kelas akan mampu membantu guru dan murid menjadi semakin sadar sebagai makhluk ciptaan Allah dan semakin ahli dengan profesi manusia di muka bumi sebagai khalifah Allah.

Jadi apabila setiap mata pelajaran sudah mampu membuat manusia semakin sadar sebagai mahluk ciptaan Allah dan semakin ahli sebagai khalifah Allah, maka pada saat itulah manusia berpeluang besar untuk bisa menikmati hidup yang bahagia, sejahtera dan berkemajuan di muka bumi secara bersama-sama dengan cara yang adil dan manusiawi. Sebagai penutup, saya melihat, bahwa Kurikulum Tauhid adalah kurikulum mendesak untuk dikembangkan di Indonesia dalam upaya menyelamatkan bangsa Indonesia dari bahaya Sekulerisme yang semakin terbukti mendorong manusia moderen jatuh pada pikiran dan perilaku destruktif dalam berbagai bidang kehidupan. Semoga bisa ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang terkait untuk perbaikan Indonesia yang sama-sama kita cintai ini. Aamiin.

Komentar