oleh

Tsunami dan Minim Peralatan

-Opini-625 views
Dosen dan Konsultan Lingkungan

 

Focusmalut.com –  Belum selesainya derai air mata saudara-saudara kita di Lembok setelah diguncang bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,4 pada tanggal 29 Juli 2018 yang lalu, kini Indonesia kembali menangis dengan tangisan lebih mendalam.

Gempa bumi sekaligus tsunami menerjang pesisir Kota Palu dan Kabupaten Donggala. Hal ini seakan-akan memperpanjang tangisan Indonesia, sebelum gempa bumi dan tsunami menerjang Palu dan Donggala, pada tahun 2004 tepatnya 26 Desember gelombang besar tsunami juga menghantam pesisir wilayah Aceh gempa berkekuatan magnitudo 9,1 sampai 9,3 saat itu mengguncang dasar laut di barat daya Sumatra, sekitar 20 sampai 25 kilometer lepas pantai.

Dilaporkan BBC News, jumlah korban tewas di Aceh sekitar 170.000 orang serta kerusakan bagunan begitu parah. Bahkan pada tanggal 27 Desember, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyatakan tsunami di Aceh sebagai bencana kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi.

Kini luka bencana itu digores lagi, gempa berkekuatan magnitudo 7,4, terjadi pada jumat sore, 28 September 2018, di Palu dan Kabupaten Donggala. Tak hanya ratusan jiwa melayang, tercatat ratusan bangunan serta fasilitas umum luluhlantak bagai kota mati.

Hingga saat ini dilaporkan sebanyak 832 korban tewas telah ditemukan dan teridentifikasi. Gempa dan tsunami di Palu dan Donggala adalah kejadian alam yang perlu dicermati.

Dilihat dari perspektif sandaran agama, kita dituntut dan memaknai lalu mengambil iktibar bencana gempa dan tsunami sebagai teguran agar kita kembali ke jalan benar. Atau dengan bencana ini, sebagai sebuah ujian besar untuk hamba-hamba yang beriman. Semakin sabar dan ilhlas akan menjadi manusia-manusia terbaiknya Allah SWT.

Dalam (agama) Islam mengajarkan kita bahwa suatu bencana yang terjadi tidaklah berlangsung tanpa sebab. Begitu juga dengan bencana gempa dan tsunami di Aceh, Lombok, Palu dan Donggala. Ada akibat pasti ada sebabnya, ada ulah mahluk manusia sebagai pengundang hadirnya bencana tersebut.

Dalam Al-quran banyak ayat-ayat Allah s.w.t yang memberi penjelasan adanya korelasi antara terjadinya bencana dengan pengingkaran seperti kisanya Nabi Nuh yang diceritakan dalam QS. Al-Ankabut ayat 14 atau Allah s.w.t menguji orang-orang baik (beriman) dengan bencana tersebut sebagaimana dalam Q.S albaqarah ayat 214 dan masih ada lagi pelajaran yang diberikan alquran tentang bencana.

Baca Juga:  Pencitraan Ciri Khas Pemimpin Kapitalis Sekuler

Terlepas dari perpektif agama, semua kejadian di muka bumi adalah kehendak-NYA.

Saya sedikit mengkaver dari sisi kesiapan teknologi atau peralatan (sistem) negara dalam menghadapi bencana. Gempa dan gelombang ganas tsunami Palu dan Donggala bukan pertama kali menimpa Indonesia, gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan daratan serta pesisir Palu dan Donggala begitu banyak menelan korban jiwa sebenarnya mencerminkan kurangnya teknologi canggih atau kesedian sistem untuk mendeteksi akan hadirnya peringatan gempa dan tsunami.

Indonesia adalah negara zona merah bencana gempa dan tsunami, sudah selayaknya pemerintah menyediakan sistem deteksi yang moderen, selama ini Indonesia masih primitif dan tidak berkembang dalam sistem teknologi pendeteksian.

Dengan adanya bencana-bencana sebelumnya (Aceh, Lombok dan lain-lain) seharusnya pemerintah Indonesia sudah memiliki master plan metigasi bencana secara modern untuk mempersiapkan dan menanggulangi bencana.

Selama Indonesia diketahui hanya menggunakan seismograf, perlengkapan Global Positioning System (GPS) dan tide gauge (alat pengukur perubahan ketinggian air laut) untuk mendeteksi tsunami. Oleh sebabnya, Indonesia belum mampu memberikan informasi yang akurat terjadinya gempa dan tsunami.

Namun kita lihat negara-negara dunia yang memiliki zona merah bencana seperti Indonesia begitu baik dalam sistem metigasi bencana. Misalnya Amerika, Japan dan China mengelontorkan biaya yang cukup besar untuk memasang jaringan sensor canggih di dasar lautan yang bisa mendeteksi perubahan tekanan sekecil apapun yang mengindikasikan kemunculan sebuah tsunami. Hingga dapat memberitahukan kepada warganya untuk mengantisipasi diri atau penyelamatan sebelum terjadinya bencana.

Menurut hemat saya, Pemerintah Indonesia perlu melakukan, pertama: segera menetapkan map daerah-daerah zona merah bencana gempa dan tsunami, kedua: memberikan edukasi kepada masyarakat tanda-tanda akan terjadinya suatu bencana, sedang terjadi bencana dan apa yang akan dilakukan setelah terjadi bencana. Dan ketiga: Paling penting, pemerintah Indonesia segera mengadopsi teknologi modern penanganan bencana gempa bumi dan tsunami dengan sistem teknologi pemasangan jaringan sensor bawa laut untuk mendeteksi getaran gempa bumi yang bisa menyebabkan terjadinya gelombang ganas tsunami.

Padahal, jika Indonesia memiliki alat yang modern dalam hal memberikan informasi secara faktual, kemungkinan gempa bumi serta tsunami Palu dan Donggala tidak menelan korba jiwa sebanyak sekarang.

 

Fadlan Muin, S.Pd. M.Sc

Dosen dan Konsultan Lingkungan

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *